Oleh: Nasir Syar’an
Pengantar
Ekspor furniture Indonesia maju, rakyat sejahtera. Mengapa? Karena industri ini
- tergolong padat karya yang membuka lapangan kerja yang luas,
- memiliki daya saing dibanding industri dari Negara lain, yaitu dibidang ketrampilan mengukir dan tenaga kerja murah,
- bahan baku kayu tidak tergantung pada Negara lain dan pasar ekspor masih berpeluang luas.
Yang cukup membesarkan hati, trend ekspor furniture Indonesia pada 2003-2007 menunjukan arah positif, yakni 5,52 % (klik tabel di sini ). Dan industri ini telah menyerap banyak tenaga kerja di Jawa Tengah, DKI Jakarta, Jawa Timur dan lain-lain. Jepara yang menyumbang hanya 6 persen dari ekspor furniture nasional, bisa menyerap 49.152 orang, atau 56% dari total tenaga kerja di Jepara. Belum dihitung serapan kerja dari industri lain yang hidup dari dampak industri furniture ini (multiplier effect), seperti bahan-bahan furniture, transportasi , makanan, perhotelan, bangunan , dan sebagainya. Dengan demikian,kita bisa memperkirakan Industri ini secara nasional menyerap banyak tenaga kerja, memberikan multiplier effect yang besar, dan serta mengatasi kemiskinan.
Ekspor Furniture Indonesia (dalam US$ 000)
Sumber: BPS
Namun itu belum cukup. Furniture masih perlu dikembangkan lebih
luas lagi, menyerap tenaga kerja yang lebih besar dan mengatasi kemiskinan lebih banyak lagi. Pasar ekspor furniture masih besar. Dan industri ini masih bisa berkembang jika mengoptimalkan pendorong dan mengatasi hambatan.
Kekuatan Pendorong
Kita perlu mengidentifikasi kekuatan pendorong dalam mengembangkan ekspor furniture Indonesia.
- Peluang ekspor masih terbuka lebar. Peluang Indonesia dalam memasarkan produk furniture di pasar luar negeri masih cukup besar karena share dari Indonesia baru sebesar 1.62 persen selama tahun 2007 lalu. Indonesia mencapai peringkat ke 18 untuk kategori eksportir furniture terbesar. Sebagaimana dikatakan oleh Kepala BPEN (Badan Pengembangan Ekspor Nasional), Bachrul Chaery, kemungkinan untuk naik keperingkat yang lebih tinggi sangat terbuka terutama untuk furniture kayu (wooden furniture) dari bahan baku hutan tropis. Selama ini ekspor Indonesia masih terkonsentrasi pada segmen tertentu dari Jepang, Amerika, dan Eropa.
- Meluasnya penggunaan informasi teknologi dalam bisnis juga bisa mendorong perkembangan ekspor furniture. Supplier di Indonesia lebih mungkin untuk mengenal lebih banyak buyer, dan buyer pun lebih bisa mengenal lebih banyak supplier. Sehingga kondisi ini bisa mengurangi rantai distribusi yang bisa membuka lebih banyak peluang ekspor di tengah pasar global.
- Furniture Indonesia punya daya saing baik dalam differensiasi (keunikan) maupun harga. Differensiasi furniture Indonesia ini didasarkan pada pada pekerja ukir yang terampil dan kekayaan ragam kayu dan serat alam. Sehingga dengan demikian, Indonesia berpotensi menghasilkan desain furniture kayu (wooden furniture design) yang unik. Tenaga kerja furniture Indonesia, mulai dari yang terampil hingga tidak terampil, tersedia dan tergolong sangat murah jika dibandingkan dengan tenaga kerja sejenis di negara lain. Hal ini memungkinkan furniture Indonesia juga bisa bersaing dalam harga.
Contoh Pemanfaatan Kekayaan kayu dan Serta Alam
- Dalam hal pengembangan jaringan ekspor, Indonesia telah mempunyai Badan Pengembangan Ekspor yang punya hubungan dengan Atase Perdagangan Indonesia dan Indonesian Trade Promotion Center di luar negeri. Lembaga-lembaga ini telah merintis dalam mempromosikan produk-produk Indonesia, termasuk furniture di luar negeri. Pelajar-pelajar dan warga Indonesia di luar negeri juga cukup banyak. Sehingga mereka ini berpotensi untuk mengembangkan jaringan pemasaran ekspor di luar negeri.
Penghambat
Di samping faktor pendukung ekspor tersebut, furniture Indonesia menghadapi sejumlah hambatan
- Illegal lodging, penebangan liar yang sebagian dijual keluar negeri masih banyak terjadi di Indonesia. Dampak buruk pertama, bahan baku furniture akan semakin langka dan mahal. Sehingga hali ini meningkatkan biaya produksi dan harga jual. Dampaknya, daya saing produk di pasar global menurun. Kedua, penebangan liar hutan tropis,paru-paru dunia, mengancam pemanasan global. Negara-negara yang peduli untuk mengerem pemanasan global membuat regulasi dalam menerima furniture dari Indonesia. Mereka membatasi impor dari Indonesia dengan membatasi jumlah (kuota), dan mensyaratkan furniture kayu (wooden furniture) Indonesia berasal dari kayu bersertifikat. Sayangnya sertifikasi kayu ini dikeluarkan oleh lembaga dari luar negeri dan berbiaya mahal, sehingga membebani ongkos produksi furniture kayu Indonesia.
- Pemasaran furniture Indonesia ke pasar global masih pasif, sehingga peluang pasar yang luas menjadi tidak kelihatan. Pada umumnya pengusaha mencari pelanggan dengan menunggu calon pelanggan datang, maksimal dengan cara pameran. Hampir tidak ada upaya untuk mengenal selera pasar pemakai akhir (end user), menyesuaikan produk, harga, dan citra dengan selera pasar, mengidenfikasi jalur distribusi, dan melakukan pendekatan pada jalur distribusi, atau membangun jalur distribusi di luar negeri. Hampir tidak ada eksportir furniture Indonesia yang mempunya kantor perwakilan di luar negeri. Pemasaran pasif ini hanya mempertemukan pengusaha furniture dengan broker-broker yang memperpanjang rantai distribusi.
- 77% ekspor furniture Indonesia terkonsentrasi pada Amerika Serikat, Jepang, Eropa, dan Australia. Dampak negatif dari konsentrasi tersebut adalah: konsekuensi kerugian di bidang ekonomi dan perdagangan, ketika permintaan furniture di negara-negara tersebut mengalami perubahan drastis (seperti kondisi ekonomi global saat ini)
Sumber: BPS
- Untuk produk ekspor, furniture Indonesia tidak mendesain sendiri produknya. Pembelilah yang menyediakan desainnya. Perusahaan furniture hanya menjadi tukang jahit atau istilah teknisnya original equipment manufacturer(OEM). Cara seperti ini menghalangi furniture Indonesia memasuki pasar yang lebih luas. Dampak lainnya, industri furniture Indonesia mudah jatuh pada banting harga, karena buyer yang menyediakan desain ini bisa menawarkan ke banyak perusahaan.
- Kemahiran ukir pengrajin Indonesia kurang didukung dengan standarisasi kualitas produk, sehingga merusak citra furniture Indonesia. Rusaknya citra ini mengurangi minat pembeli dari luar negeri, dan pada akhirnya mengurangi permintaan mereka. Kurangnya standar ini antara kandungan air masih tinggi sehingga mudah retak dan masih menggunakan teknologi manual sehingga antara produk sejenis terdapat perbedaan design. Ketepatan waktu produksi juga masih kurang sehingga mengecewakan pelanggan.
Strategi Pengembangan Furniture
Dari pengenalan faktor pendorong dan penghambat ekspor furniture ini, bisa dirumuskan strategi pengembangan furniture.
Bahan Baku
- Illegal lodging atau penebangan liar perlu diberantas karena membahayakan perekonomian dan lingkungan. Illegal lodging ini merusak citra Indonesia di mata internasional yang saat ini peduli pada lingkungan hidup. Jika citra terus merosot, mereka akan mengeluarkan regulasi untuk menghentikan pembelian produk furniture kayu dari Indonesia. Illegal lodging juga membahayakan keamanan supplai bahan baku kayu industry furniture Indonesia. Oleh karena itu diperlukan Pemberantasan illegal lodging untuk (a)membangun citra produk furniture kayu Indonesia, (b) mengamankan supplai bahan baku serta (c) mengurangi biaya produksi.
Pemasaran
- Agar bisa berkembang, industri furniture perlu mengenal peluang pasar dengan mempelajari lebih dalam dan luas akan kondisi pasar atau buyer. Pengusaha perlu mengenal lebih mendekati pembeli akhir. Mereka perlu bergerak dari mengenal buyer di showroomnya sendiri menuju mengenal buyer di negeri mereka sendiri. Setelah mengenal buyer di showroomnya, pengusaha juga perlu mengenal buyer di ibukota propinsi, ibu kota Negara, kemudian terus menguntit hingga ke negeri mereka. Mengenal peluang pasar tidak hanya mengenal siapa yang tertarik pada produk furniture negeri kita, tapi mengenal selera, impian, alasan mereka dalam membeli produk, daya beli dan perilaku membeli mereka. (lihat trend pasar AS 2009)Dengan pengetahuan tersebut memungkinkan pengusaha furniture untuk menyesuaikan produk, distribusi, harga, promosi dengan situasi pasar. (lihat rancangan riset pasar global)
- Fasilitas internet bisa membantu perusahaan furniture untuk melakukan pengenalan pasar, misalnya dengan mempelajari portal riset pasar seperti www.cbi.nl melalui keikutsertaan dalam portal business to business (b2b) seperti www.alibaba.com, www.EC21.com (lihat B2B di sini). Riset pasar juga bisa dilakukan melalui web dari asosiasi terkait seperti: International Mass Retailer Association (IMRA), Furniture Retailers of America ( FRA), National Home Furnishings Association (NHFA), dll (lihat daftar riset peluang pasar di sini)
- Perluasan pasar melalui diversifikasi pasar. Diversifikasi ini dimaksudkan untuk memasuki peluang-peluang baru, baik di pasar yang sama atau pasar baru. Diversifikasi ini bisa horisontal, vertikal maupun geografis. Diversifikasi Horisontal: menambah keanekaragaman jenis produk pada pasar yang sama.Diversifikasi Vertikal: penambahan nilai tambah produk pada pasar yang sama. Diversifikasi Geographis: penambahan pasar tujuan ekspor. Penambahan pasar tujuan ekspor ini bisa dengan menambah sasaran ekspor ke kota baru atau ke Negara baru.
- Indonesia telah mempunyai institusi penunjang ekspor Indonesia di luar negeri yaitu Atase Perdagangan dan atau Kabid ekonomi di Kedutaan Besar, Indonesian Trade Promotion Center (ITPC). Peran dan fungsi institusi ini perlu direvitalisasi sehingga dapat menyediakan mampu menyediakan informasi pasar internasional bagi para eksportir, memetakan para buyer yang mampu dan memiliki komitmen untuk menampung serta memasarkan produk Indonesia di negara yang bersangkutan serta memberi perlindungan dan konsultasi bisnis kepada eksportir Indonesia yang akan memasuki pasar luar negeri termasuk pemberian konsultasi dibidang prosedur dan persyaratan ekspor yang baru. Hal yang juga penting menyusul revitalisasi fungsi tersebut adalah mensosialisasikan informasi bisnis tersebut kepada pengusaha hingga ke daerah. Ada banyak hasil riset yang penting tidak diketahui oleh pengusaha furniture di daerah, seperti Jepara, Solo, Jogjakarta, Cirebon, Probolinggo.
Produksi
- Kualitas yang memuaskan pelanggan juga perlu dibangun, agar terjadi pembelian ulang. Promosi yang gencar hanya akan mengantarkan pasar pada pembelian pertama, jika tidak ditunjang oleh produk yang berkualitas. Agar terjadi pembelian ulang (repeat customer), produk harus memuaskan pelanggan dengan memberikan kualitas yang memenuhi harapan mereka. Untuk pasar luar negeri, salah satu standar pokok dalam pembuatan furniture kayu (built wooden furniture) adalah kekeringan kayu. Kekeringan kayu itu penting bagi industri furniture kayu karena furniture dengan kayu kering akan terbebas dari keretakan. Jika kayu tidak kering dan memasuki daerah lebih lembab, kayu akan mengembang dan retak. Standar selanjutnya adalah konstruksi furniture kayu, finishing.
- Ketepatan waktu pengiriman juga perlu dibangun, dengan standarisasi waktu proses produksi. Ketepatan waktu sangat penting bagi pelanggan kaerena keterlambatan bisa membuat pelanggan kehilangan peluang untuk menjual produknya ke pembeli akhir, lantaran perubahan selera dan musim yang cepat. Proses produksi yang banyak mengulur waktu adalah pencarian bahan baku, pengeringan, dan kelebihan beban produksi. Untuk itu, ketika ekspor semakin lancar, diperlukan terminal kayu yang bisa menyediakan bahan baku dengan cepat dengan pembayaran di belakang.
- Untuk mengimbangi dinamika pasar, Industri furniture perlu bergerak dari Original Equipment Manufacture menuju Original Brand Manufacturer yang memiliki nilai tambah yang lebih besar. Lihat artikel di sini.
Perusahaan furniture Indonesia perlu berhenti bersaing harga dengan teman sendiri. Lebih baik melihat peluang lebih luas dengan bantuan fasilitas teknologi informasi yang ada sekarang. Sekarang ini produk Indonesia dijual di luar negeri 5-10 kali lipat dari harga jualnya di Indonesia. Kini saatnya Indonesia berupaya meraih nilai tambah yang lebih besar.
Setelah melihat peluang, mari kita bangun daya saing dengan memperhitungkan kekuatan yang dimiliki industri ini di pasar global. Kita kuat di bahan baku yang beraneka, tenaga ukir yang terampil. Tinggal meningkatkan nilai tambah dengan pengelolaan desain, kualitas produksi dan pembangunan merek.
Majulah Ekspor Furniture Indonesia!!

Artikel bagus ni…pengen komentari…
Harga jual furniture Indonesia 5-10 kali lipat dari harga jualnya di Indonesia, wah wah so great price ya….
Bisa dibilang sedikit produk Indonesia yang mempunyai daya saing di pasar global, dan yang sedikit itu mungkin hanya furniture ya….sukses furniture
Dan mungkin iya, hanya furniture ya yang masih menjadikan pemerintah PD di luar negeri, memamerkannya, mungkin menjadikannya oleh-oleh dalam kunjungan resminya, la daripada harus menanggung malu membawa oleh-oleh ko hasil panen sawah, ga mutu banget hehehe itulah Indonesia…mending jual nukerkan pesawat dengan ketan ajah…hehe jadi ngelantur yach…masih untung ada furniture….
Tetapi, sungguh menyedihkan model-model furniture itu nyatanya ko cuma pesanan buyer, memang canggihnya bule ya bisa punya merk tidak punya pabrik, ini namanya mempekerjakan, Indonesia hanya tukang jahit…
Maka menurut saya Indonesia harus melebarkan pangsa pasar sehingga tidak terkonsentrasi pada pasar tertentu saja, hal ini setidaknya jangan sampai berimbas pada permainan bisnis, buyer ko bisa ngatur harga, jangan sampai la, sampai ngatur-ngatur asal-usul bahan baku dari mana segala, walaupun produsen juga harus bijaksana memperlakukan hasil alam…
“Harga jual furniture Indonesia 5-10 kali lipat dari harga jualnya di Indonesia, wah wah so great price ya…”
iya..makanya daripada bersaing harga dengan teman sendiri, lebih baik mempelajari peluang pasar yang luar negeri (dan jangan lupa, luar jawa juga).
Iya, furniture Indonesia masih membanggakan Indonesia, terutama untuk indoor yang tergolong antique reproduction yang banyak mengandung ukiran.
Perluasan pasar tidak harus cari pembeli baru, coba aja pembeli tetap tapi jenis produknya yang ditambah, tidak hanya antique reproduction, tapi juga desain yang modern value, traditional spirit. Modern maksudnya ornamen seperlunya saja, tidak berlebih-lebihan.
Setuju, jangan mau terus-terusan dipekerjakan oleh mereka /buyer, yang mengambil nilai lebih yang lebih besar. mari bergerak meningkatkan nilai tambah furniture Indonesia. Saat ini nilai tambah 70 persen masih dinikmati oleh pedagang perantara di luar negeri. Makelarnya terlalu banyak.
Ikutan koment ahh..
selain yang disebutin rekan-rekan diatas :
1.Membangun kepercayaan (dengan buyer maupun partner)
2.Tanggung Jawab
3.Etika (sopan santun dalam bekerjasama dengan partner)Ringkasnya bersaing tapi tetep kompak jangan menang2n(hanya memikirkan keuntungan sesaat)
4.waspadai trik2 para buyer supaya harga kita murah.
menang sendiri!!!tu egois namanya..!Jadi setuju untuk bersatu Qta yang bikin ya seharusnya emang bisa mengontrol harga ect.., jangan takut pasti laku ko,asal tetep kompak! pesaing kita dari negara2 lain dari segi apapun tetap kalah sama product indonesia khususnya jepara(banyak kelebihanya) Buat desainer furniture jepara ayo ikutan furniture desain awards 2010 ntar klo menang kan qita yang desain terus sekalian bikin pabrik sendiri (bagi yang lom punya hadiahnya lumayan:-)))..)
memang begitu seharusnya, tujuan utama harunya komunitas ato pasar global, dan harus bisa bersaing dengan negara lain..
maju furniture Indonesia
betul, dibandingkan dengan negara lain, daya saing kita besar, terutama karena bahan bahan baku yang cukup dan tenaga trampil yang murah. di Eropa, tenaga ukir itu 50 ribu rupia per jam, di kita kan 50 ribu per hari. Tapi tidak berarti harga kita murah-murahkan.
Kita tentukan harga sedikit dibawah harga pasar luar negeri saja. Saatnya perusahaan furniture ikut menikmati nilai tambah yang selama ini dinikmati broker atau perantara.
iya, menjaga kepercayaan itu fondasi bisnis. Partner bisnis jangan sampai berpikir, kita kadang baik, kadang nipu kalau nggak kelihatan. Karena itu artinya bekerja sama dengan kita, membuatnya tidak tentram, walau kita kasih harga murah. Pengusaha bonafid biasanya mementingkan ketentraman daripada murah tapi ribet di pikiran.
yaaaaaahh,,
mmng bnr..
furniture sangat potensial jika diekspor..
harga jualnya sangat tinggi,,!
tapi kemaren waktu saya riset di Jepara..
nasib sprtinya kurang berpihak pada para pengrajin..
standar kemakmuran mereka masih bisa dibilang rendah..
di tengah naiknya harga kayu,persaingan harga sangat sengit antar pengrajin,ini mngakibatkan keuntungan yg didapatkan pengrajin semakin kecil..mau tak mau mreka harus bisa memenuhi permintaan&persyaratan u/ mnjga service level mreka&mnghidupkan usaha mreka..hal ini pun bisa mmpengaruhi kualitas produknya..
perlindungan atas HAKI di sana pun tidak ada..
hmm..
bnyk yg akan saya ceritakan,,tpi mngkin lain kali saja..
heeee..
bila ad info +an / ad yg kurang tepat..
mohon koreksinya..
regards,, ^__^
iya benar. BTW di Jepara nggak ada pengemis asal jepara, bukan karena kaya-kaya, tapi karena etos kerjanya tinggi. Mereka lebih suka kerja amplas dengan gaji 8 ribu perhari, tanpa makan, daripada ngemis. Terus gaji tukang ukir 30 ribu per hari. di Luar negeri, 50 ribu per jam. Nilai tambahnya banyak habis di distribusi, value added reseller, untuk tidak mengatakan “makelar”.
Perlindungan HAKI, sudah kita rintis di JFDC, jl raya jepara kudus km 11,5 rengging pecangaan Jepara. caranya dengan menghakikan motif ukir, terus sosialisasi, dan advokasi. JFDC sudah mendaftarkan 30 desain produk dan 8 merk.
oowh,,
ok2,,
tx infonyaa,,
ttapi dlam plaksanaan mngkin sangat sulit melakukan perlindungan atas HAKI..d mn para pengrajin d sana sangat cakap,1x mlihat,langsung dapat meniru,,kbnykn pengrjin jg berasal dri pedesaan,kebersamaan bisa dibilang tinggi..kasarannya : sama2 cari makan laah..silakan2 sja..
ini kan mnghambat inovasi produk dari jepara&mngkin terkesan monoton..
mngkin ini salah 1 faktor yg mmpengruhi sulitnya perlindungan pada HAKI..
adakah batasan2 u/ HAKI..?
1 ‘coretan’ yg berbeda bisa dibilang tidak meniru,pdhl 90% bntuk&motifnya sama..?
sedngkan u/ maslah kesejahteraan..
mngkin JTTC/pemerintah mmbuat standarisasi harga produk,shg di antara pengrjin tidak saling banting harga&ttp mmpertahankan kualitas produk..
sbg pmimpin yg baik hendknya mmikirkan nasib anak buahnya,karena mrek dlah inti dari industri ini&mreka bngsa kita sndiri,,
tx 4 attention,, ^__^
salam kenal.
selain di atas. kayaknya perlu tuh buat pameran-pameran khusus furniture tapi tidak cuma di kota besar kayak jakarta,jogja,surabaya, atau medan serta bali aja. karena kadang ada pengusaha modal kecil yang ga punya budget untuk ikut pameran sampe jauh dari kota asal. bila perlu ada event tahunan yang tiap tahun ganti kota tempat pamerannya. karena saya tinggal di balikpapan belum pernah denger ada pameran furniture gitu.
Mas Ferando, ada pameran UKM di Samarinda, Pointianak dan Banjarmasin lho di tahun 2009 ini.
Untuk Banjarmasinnih infonya,
Event Title : Banjarmasin Trade Expo
Date : 27 Juni s/d 1 Juli 2009
Venue : Gedung Silan Suriansyah
City : Banjarmasin
Contact Person : E l g a (085 67141401)
Organizer Name : PT. Tiga Warna Promosindo
Jepara memang ada rencana untuk Pameran di beberapa kota, luar jawa. Namun sebagian rencana itu belum bisa terlaksana lantaran sebagian Pameran dibatalkan.
mas adhitya wijaya
Desain mebel Jepara selama ini lebih banyak mengikuti permintaan dari pembeli. Sehingga sulit bagi pengusaha Jepara untuk tidak meniru, mengingat desain pelanggan itu juga tiruan.
Di Jepara sendiri, tiru meniru desain menjadi biasa antar sesama warga.Ndak ada yang nuntut.
Menjadi persoalan, ketika ada kekhawatiran, pihak luar negeri mengHAKIkan produk Jepara. persoalan karena semua warga jepara tidak bisa menjual produk ke luar negeri, karena buyernya takut melanggar hak cipta.
Kalau motif Jepara sudah diakui sebagai folklor dan punya indikasi geografis oleh dunia internasional, kita, sedikit terlindungi. Sayangnya UU Folklor belum kelar juga.
Tidak harus semua produk diHAKIkan, karena desain mebel dan kayu sangat buanyak. dan kalaupun dihakikan, orang mudah meniru.
Saat ini Jepara sedang mengamankan motif ukirnya dulu. Sehingga, apapun model desainnya, kalau pake motif ukir Jepara, berarti mesti hormati hak intelektual orang Jepara, dong.
ada yang tau proses bisnis perusahaan furniture ga???
kalo ada minta artikelnya sekalian yah…
terima kasih.
kayu…lalu dibelah – dikeringkan dengan oven – dijadikan komponen – rakit – amplas kasar – amplas alus -pewarnaan.. eh itu baru proses produksi ya…
kalau proses bisnis ya seperti usaha lain lah – mencari pasar – kalau dah nemu ya memenuhi permintaan pasar.menata perputaran uang. menata karyawan…
aku baru di marketing furniture (rotan dan kayu)
artikel ini cukup membuka wawasan
situs ini asik