Mebel dan ukiran jepara sudah ada semenjak abad ke 16 (lihat sejarah furniture jepara ) dan sampai sekarang masih bertahan. Karena itu merk bahwa Jepara adalah kota ukir tertancap pada benak masyarakat Indonesia, bahkan pedagang mebel dunia. Tentu ada cerita-cerita tentang mebel Jepara yang berkembang baik yang benar maupun tidak benar.
1. Mebel Jepara produksi dari luar Jepara sama dengan mebel dari Jepara.
Tak bisa diingkari, bahwa banyak warga Jepara yang bekerja dalam bidang mebel di luar Jepara. Banyak pengrajin Jepara bekerja di Jakarta, Jogjakarta, Bandung, Lampung, Pasuruan, Semarang. Dibanding dengan warga kota rantau, pengrajin Jepara biasanya paling cemerlang dalam hal ukiran. Hal ini membuat nama mebel Jepara ikut cemerlang. Walaupun demikian, kualitas pengrajin rantau tidak sepenuhnya mewakili kualitas mebel Jepara. Pengrajin Jepara rantau sudah menyesuaikan kualitas mebel mereka dengan daya beli dan daya saing di tempat mereka merantau. Dalam istilah di Jepara, kualitas mereka adalah kualitas lokal domestik, untuk pasar Indonesia. Sementara di Jepara, kualitas mebel bervariasi, mulai dari yang premium – sangat halus – hingga yang ekonomis. Sehingga kalau anda menilai mebel jepara buatan perajin rantau itu bagus, akan sebenarnya masih bisa menemukan mebel Jepara yang jauh lebih bagus lagi di Jepara. Ukiran Jepara memperoleh julukan halus seperti sutra – ngrawit seperti rambut. Ini untuk menunjukkan bahwa ukiran Jepara itu hidup, halus dan detail. Berikut gambar dari ukiran Jepara yang halus. Bukan mebel, tetapi mencerminka kehalusan ukiran Jepara dan bisa diterapkan untuk mengukir mebel. Jika perajin Jepara bisa mengukir sehalus ini, maka ukiran mebel classic yang kurang rumit (kurang rumit bagi orang Jepara tetapi teramat rumit bagi banyak pengerajin luar negeri) menjadi hal yang enteng. Ukiran burung beserta sayapnya ini berukuran sekitar 7 cm.
Biasanya kalau saya berpameran dengan membawa ukiran ini, banyak pengunjung yang terheiran-heiran.
e
2. Mebel Jepara itu Mahal
Jika anda berada di luar Jepara, harga mebel Jepara sudah mengalami pembengkakan harga. Hal ini karena ada pertambahan biaya transportasi dan distribusi. Kenaikan itu bisa beberapa kali lipat. Hal ini memberi kesan bahwa mebel Jepara itu mahal. Jika anda membeli langsung ke pabriknya – salah satunya adalah kami Jadid Art Furni– Anda akan menemukan bahwa mebel Jepara itu tidak mahal, bahkan jika ongkos kirim diperhitungkan. Hal ini karena Jepara adalah sentra industri mebel dimana ada sejumlah besar pengusaha mebel (12 ribu) yang memungkinkan mereka secara kolektif menghemat biaya produksi dan pemasaran. Menghemat biaya produksi karena pembelian bahan dalam partai besar. Menghemat biaya pemasaran karena Jepara sudah dikenal sebagai pusat mebel sehingga pembelilah yang banyak datang ke Jepara. Biaya promosi tentu saja ikut tertekan.
3. Kualitas jati dari Mebel Jepara itu Sama
Konsumen pada umumnya hanya mengenal satu istilah untuk “kayu jati”. Jika mereka mengalami keluhan untuk untuk bahan mebel jati mereka, mereka menggeneralisir bahwa semua kayu jati itu demikian. Padahal sama sekali tidak. Kayu jati itu beragam kualitasnya. Ada yang empuk (tetapi masih jauh lebih keras daripada jenis kayu yang empuk: mahogani, albasia, rambutan) dan ada pula yang keras. Daya tahannya juga berlainan. Ada yang relatif lebih mudah termakan rayap, ada pula yang sulit di makan rayap. Secara alamiah, kayu jati mengandung tectoquinon yang bersifat racun bagi serangga pemakan kayu. Kadar zat ini juga beragam. Selain itu, kualitas jati pada bagian tengah (galih) tentu berbeda dengan kayu jati pada bagian pinggir. Kayu jati dengan diameter lebar, berbeda dengan kayu jati dengan diameter kecil. Karena itu kayu jati di Jepara mempunyai banyak atribut: kayu jati kampung, kayu jati perhutani, OP, OD, DL, 40up (diameter), lepas putih, putihan.Kayu jati perhutani terkenal bagus, serat halus dan keras.