Arsip Tag: Pengembangan UKM

Upaya Pengembangan UKM Kabupaten Jepara

Dengan berlakunya Undang-Undang No 22 tahun 1999 dan UU 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah, maka kewenangan daerah mempunyai otonomi untuk mengatur dan mengurus masyarakat setempat lebih luas. Perubahan sistem ini akan mengalami implikasi terhadap pelaku bisnis mikro, kecil dan menengah berupa pungutan-pungutan baru yang dikenakan pada Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Jika kondisi ini tidak segera dibenahi maka akan menurunkan daya saing UMKM. Disamping itu semangat kedaerahan yang berlebihan, kadang menciptakan kondisi kurang menarik bagi pengusaha luar daerah untuk mengembangkan usaha di daerah tersebut.

Sebagaimana diketahui bahwa AFTA yang mulai berlaku tahun 2003 dan APEC tahun 2020 yang berimplikasi luas terhadap UMKM untuk bersaing dalam perdagangan bebas. Dalam hal ini, mau tidak mau UMKM dituntut untuk melakukan proses produksi dan efisien, serta dapat menghasilkan produk yang sesuai dengan frekuensi pasar global dengan standar kualitas. Untuk itu, maka diharapkan UMKM perlu mempersiapkan agar mampu bersaing baik secara keunggulan komparatif maupun keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.

UMKM mempunyai peran yang strategis dalam pembangunan ekonomi nasional, oleh karena selain berperan dalam pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja juga berperan dalam pendistribusian hasil-hasil pembangunan. Dalam krisis ekonomi yang terjadi di negara kita sejak beberapa waktu yang lalu, dimana banyak usaha berskala besar yang mengalami stagnasi bahkan berhenti aktifitasnya. Sektor UMKM terbukti lebih tangguh dalam menghadapi krisis tersebut.

Pengembangan UMKM perlu mendapatkan perhatian yang besar baik dari pemerintah maupun masyarakat agar dapat berkembang lebih kompetitif bersama pelaku ekonomi lainnya.

Kebijakan pemerintah ke depan perlu diupayakan lebih kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya UMKM. Pemerintah perlu meningkatkan perannya dalam memberdayakan usaha yang saling menguntungkan antara pengusaha besar dengan pengusaha kecil, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusianya.

Guna lebih mempercepat proses kemitraan UMKM dengan usaha besar, diperlukan media khusus dalam upaya mempromosikan produk-produk yang dihasilkan. Disamping itu juga diadakan talk show antara asosiasi dengan mitra usahanya.

Kebijakan Pembangunan Jepara dalam pengentasan kemiskinan diantaranya adalah keberpihakan terhadap ekonomi kerakyatan dengan mengembangkan sumber daya lokal. Apabila ditinjau dari potensi sumber daya yang ada, sektor  UMKM cukup dominan di Jepara. Dari data yang ada sektor UMKM menyerap cukup besar tenaga kerja. Apabila dikaitkan dengan visi, misis dan kebijakan Pemda Jepara, pengembangan ekonomi lokal menjadi salah satu misi dan kebijakan Pemda Jepara untuk pengentasan kemiskinan.

Beberapa permasalahan perekonomian Jepara yang melatarbelakangi diperlukannya pengembangan untuk UMKM: Mebel, ukiran dan kayu olahan berkontribusi sebesar 28% dari PDRB Kabupaten, sementara sektor pertanian hanya sekitar 20%.

Ancaman atau tantangan yang dihadapi, a.l menyangkut “citra”, dengan munculnya pesaing utama dari China, Vietnam, Filipina, juga soal “desain” yang ketinggalan, serta “tata cara penjualan” yang belum optimal.

Masalah Strategi Pemasaran

Dalam teori, marketing mix terdiri dari: produk, price, place, promotion permasalahan yang dinyatakan masyarakat dapat dirumuskan:

Produk

Saat ini mengandalkan talent pengrajin pengukir namun lambat dalam mengantisipasi dan merespons perkembangan selera pasar. Kualitas produk juga menghkhawatirkan kalau dikaitkan dengan pesaing yang kian banyak. Desain yang menjadi ciri khas ukir Jepara tidak banyak berkembang karena kebanyakan lebih melayani desain pesanan dari pembeli.

Price

Di Jepara terjadi persaingan yang kurang sehat, dengan saling menjatuhkan harga. Akibatnya margin keuntungan yang didapat semakin tipis, terutama yang diterima oleh pengrajin yang posisinya sebagai mata-rantai terbawah. Hal ini berdampak pada kualitas dan minat generasi muda berbakat untuk menjadi pengrajin, pengukir. Ini terbukti dengan rendahnya minat  untuk mengikuti pelatihan dan sekolah ukir.

Place

Selama ini pengusaha dan mebel dan ukir Jepara banyak menikmati citra atau branding alamiah sebagai daerah atau pusat ukiran, yang memang sudah terkenal. Sehingga umumnya pembeli datang ke Jepara, ke lokasi. Ini sangat menguntungkan, namun di sisi lain dampak negaifnya, yaitu membuat pengusaha Jepara cepat puas dengan harga di tempat produksi. Padahal itu dalam mata rantai (value chain), justru margin keuntungan banyak dinikmati perantara, pembeli dari luar daerah, terutama importir dari luar negeri. Masih sedikit jumlah pengusaha Jepara yang menjadi pedagang (eksportir) yang menjual langsung ke pembeli akhir.

Promosi

Promosi sudah banyak dilakukan dengan mengikuti berbagai event pameran di dalam dan luar negeri, tetapi masih perlu ditingkatkan lagi terutama melalui jaringan perdagangan pariwisata, dan melalui internet memanfaatkan portal bisnis (b2b)

Dari hasil analisis di atas identifikasi kebutuhan dan permasalahan di atas didapat satu permasalahan utama yang berdampak terhadap produktivitas dan efektivitas UKMK di dalam pengembangan ekonomi lokal. Adapun permasalahan utamanya adalah belum adanya lembaga yang secara total memberikan pelayanan dan pendampingan berkelanjutan dan profesional untuk produktivitas dan efektivitas manajemen UMKM di dalam pengembangan usaha dan pemasaran UMKM.

Oleh Samsul Arifin

Pengelola JTTC