15 Mei 2009 | Oleh Drs Harry Soesanto, MMR
Kabupaten Jepara dikenal sebagai kota ukir di Jawa Tengah, karena terdapat sentral kerajinan ukiran kayu. Kerajinan mebel dan ukir ini tersebar merata hampir di seluruh kecamatan dengan keahlian masing-masing. Namun sentral perdagangan terletak di wilayah Ngabul, Senenan, Tahunan, Pekeng, Pekalongan dan Jl Pemuda Jepara. Selain itu, Jepara merupakan tempat kelahiran pahlawan wanita Indonesia RA Kartini.
Industri mebel dan kerajinan merupakan industri andalan kabupaten Jepara. Industri Furniture Jepara tersebut telah menjadi tulang punggung perekonomian Jepara. Pariwisata Jepara memiliki banyak objek menarik yang dapat dikembangkan lebih baik lagi antara lain, Pantai Kartini, Bandengan dan Karimun Jawa. Karena keterbatasan APBN yang ada, maka pengembangan pun belum optimal. Selain itu, yang saat ini menarik adalaah wisata budaya dan wisata industri. Industri mebel dan ukir Jepara yang berbasis “home Industry” dan merupakan kerajinan tangan dapat pula dikembangkan menjadi wisata industri sekaligus wisata belanja produk kerajinan Jepara.
Kesadaran akan pentingnya city branding sebenarnya sudah muncul di hampir setiap kota di Indonesia. Hanya saja, aktivitas yang dilakukan masih sangat terbatas, dan tidak sedikit yang salah kaprah. Secara umum, dapat dikatakan sebagian daerah di Indoensia belum melakukan kegiatan branding yang pro aktif dan terintegrasi. Kebanyakan daerah masih terjebak pada promosi-promosi parsial dengan sekedar mengikuti kegiatan yang telah dijadwalkan secara regular, milsalnya tourism exhibition atau investment exhibition di beberapa negara. Selain itu, kelemahannnya bukan hanya dalam hal external branding activities, tetapi juga secara internal tidak cukup solid. Apa yang dijual ke luar negeri sering tidak mencerminkan apa yang jadi keunikan di daerah tersebut. Hal ini akhirnya membuat banyak daerah menjual sesuatu yang sudah dimiliki daerah lain.
Untuk itu, agar aktifitas branding yang dilakukan menarik dan bermanfaat, maka perlu dapat dilakukan perbandingan yang komprehensif antara kondisi eksternal dan kompetensi atau sumber daya internal yahg dimiliki. City branding haruslah esternally different dan internally inspiring, secara esternal memang berbeda dari daerah atau negara lain. Dengan demikian, barulah kita dapat melihat bahwa negeri kita amat berbeda, unik, dan memiliki kekhasan yang unggul di tengah-tengah bangsa di dunia. seca4ra kultur memang kita berbeda, namun bukan semata-mata perbedaan kultur itulah yang memikat wisatawan mancanegara untuk datang. Melainkan sejauih mana kekhasan kultur alam dan manusia di Indonesia, khususnya di Jepara dapat memberikan pengalaman yang mengesankan (happy appealing), menghibur (entertaining) dan memberikan sesuatu yang lebih dari yang diharapkan wisatawan macanegara. Sekurang-kurangnya ada hal inti di dalamnya yang menjadi ujian kita dalam lingkup lokal membumikan city branding di tiap daerah, dalam lingkup nasional mewujudnyatakan filosofi dan tujuan country branding. Tantangan kita adalah sejauh mana warga di tiap daerah terinspirasi atau sejauh mana warga di tiap daerah terinspirasi atau internally inspiring oleh branding daerahnya masing-masing – untuk memberikan kontribusi positif sesuai dengan kapasitas dan kemampuan yang dimiliki untuk daerah Jepara.
Banyak keunggulan yang akan diperoleh jika suatu daerah melakukan City Branding, antara lain:
Kabupatan Jepara memiliki city branding yang sangat kuat karena Jepara memiliki kualifikasi yang dapat dihandalkan tentang sumber daya yang ada, mempunyai sejarah, kualitas tempat pariwisata, gaya hidup, budaya dan keragaman yang menarik yang dapat dipasarkan. Oleh karean itu, Pemerintah Daerah dan masyarakat perlu melakukan city branding agar daerahnya dapat makin dikenal, sehingga pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakatnya semakin meningkat.